Islami

Takwa, Ciri Muslim Cerdas dan Berakal

Di manapun dan kapanpun berada, kening kita bersujud di hadpan Allah

Senin, 10 Desember 2012

MODERNITAS selalu mengidentikkan akal dengan anti Tuhan. Tidak disebut orang berakal jika masih menyembah Tuhan, itulah kesimpulan Auguste Comte dengan konstruk logika positivisme-nya. Bahkan, menurut Comte, orang atau masyarakat yang masih meyakini Tuhan, termasuk manusia primitif. Manusia yang paling maju adalah manusia modern yang meninggalkan Tuhan.

Jika ditinjau dari aspek historis, pernyataan Comte itu relevan untuk diri dan orang sezamannya. Namun logika Comte itu sama sekali tidak berguna dan tak laku bagi umat Islam, kapan dan di manapun di seluruh dunia ini. Sayangnya, logika rusak ini justru menjadi materi pelajaran sosiologi dan filsafat ilmu di kalangan siswa dan mahasiswa, maka tidak sedikit Muslim modern yang juga salah pandang terhadap arti kemajuan dan modernitas.

***

Dunia hari ini memandang kemajuan itu dari aspek materi, berupa teknologi dan materi. Sering kita mendengar bahwa orang yang belum tahu gadget terbaru, game terbaru, pakaian terbaru, atau mobil baru, disebut sebagai ketinggalan zaman. Padahal, perkembangan teknologi itu tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada produk terbaru setiap tahun, bahkan mungkin pertriwulan. Jangankan hand phone, produk mobil saja setahun bisa muncul lebih dari tiga jenis mobil varian terbaru.

Konsekuensi dari banyaknya produk baru, meniscayakan iklan besar-besaran. Akhirnya, tidak bisa kita pungkiri, banyak umat Islam yang mau tidak mau harus mengkonsumsi iklan produk-produk baru, hampir setiap kali mereka melihat komputer, tablet, koran, bahkan SMS. Akibatnya jelas, cepat atau lambat, pola berpikir konsumtif pun merajalela. Sering orang bekerja mati-matian untuk membeli hp keluaran terbaru. Bahkan, ada seorang gadis yang rela menjual tubuhnya untuk bisa membeli hp tercanggih di negeri ini.

Bagi Muslim yang berkecukupan bahkan berlebih, sebagian sudah melupakan saudaranya yang membutuhkan. Mereka sibuk mengoleksi benda-benda, mulai dari baju, sepatu, hp, bahkan sampai peralatan mewah yang super mahal. Semua itu menjadi kebanggaan, pemelihara gengsi, dan pengangkat derajat dalam pergaulan. Akhirnya, orang berlomba-lomba mencari kekayaan dan menumpuk-numpuk harta.

Mereka masih tetap Muslim, tetapi pola pikir mereka sudah keliru. Seorang Muslim, mestinya mencari akhirat tanpa lupa dunia (QS. 28: 77). Sekarang, situasinya berbeda, orang mengejar dunia dengan tidak lupa akhirat, bahkan ada yang melupakan akhirat demi dunia. Jelas ini pola pikir yang salah.

Mungkin karena pemikiran Comte yang disuapin pada generasi bangsa melalui pendidikan sosiologi atau mungkin karena kajian filsafat ilmu di perkuliahan. Atau bisa jadi, karena sebagian besar umat Islam sendiri belum sungguh-sungguh mengkaji, menggali, dan memaknai Al-Qur’an secara serius, sehingga mayoritas umat Islam hari ini banyak meninggalkan ajaran agama, karena begitu cintanya terhadap kehidupan dunia.

Allah Subhanahu Wata’ala jauh-jauh hari telah menegaskan kepada kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, menipu, dan senda gurau belaka. Artinya, umat Islam dalam menjalani kehidupan dunia ini harus menghiasi dirinya dengan sifat mulia, yakni sifat takwa.

Takwa, Cerdas

Tetapi manusia sering lalai dan cenderung tidak mau merenung. Bahkan manusia sering mementingkan hal-hal remeh dan mengabaikan hal utama, sehingga hati tidak bekerja dengan sempurna, akal terbuai, dan akhirnya sangat cinta pada kehidupan dunia. Bahkan rela menanggalkan ajaran-ajaran agama, meskipun hati nurani sangat mengerti.

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللّهِ يَجْحَدُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.” (QS. Al Maidah [6]: 32).

Pada ayat sebelumnya (QS. 6 : 31) Allah tegaskan secara gamblang perihal orang kafir yang sangat menyesali diri mereka karena telah mendustakan Allah karena sangat cinta dunia. Qatadah sebagaimana termaktub dalam tafsir Ibn Katsir menyatakan bahwa sangatlah rugi dan menyesal manusia yang mendustakan Allah karena begitu cintanya kepada kehidupan dunia, mereka itulah orang kafir.

Lebih lanjut, Ibn Abi Hatim mengatakan dari Abu Marzuq, “Ketika keluar dari kuburnya, orang kafir atau orang jahat itu disambut oleh sosok dalam wujud yang paling buruk lagi bau busuk. Si kafir bertanya; ‘Siapa kamu ini?’ ‘Apakah kamu tidak mengenaliku?’ tanya sosok itu. ‘Tidak, kecuali bahwa Allah telah menjadikan wajahmu buruk dan menjadikan baumu busuk,’ papar si kafir itu.

Sosok itu pun menjawab, ‘Aku adalah amal keburukanmu, seperti inilah kamu dahulu ketika di dunia beramal yang buruk lagi busuk. Selama di dunia engkau telah menunggangiku. Maka marilah sekarang aku menunggangimu!’

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, Muslim yang mementingkan hal-hal tidak penting, dan memprioritaskan hal-hal yang tidak dibutuhkan untuk kehidupan akhiratnya, bisa termasuk manusia yang merugi dan menyesal atas segala perbuatannya selama di dunia. Dan, hanya Muslim yang bertakwa yang akan selamat dari tipu daya kehidupan dunia.

Mari kita simak kembali firman-Nya;

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. al-Qashah [28]: 60).

Secara umum dapat dipahami bahwa hanya Muslim yang bertakwa yang dapat menggunakan akal sehatnya dengan benar, sehingga tidak silau oleh kehidupan dunia. Ayat tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bagi Muslim yang belum bertakwa untuk benar-benar memaksimalkan fungsi akalnya, sehingga terbebas dari penyesalan tiada arti di akhirat kelak.

Jadi, takwa itu tidak identik dengan ibadah semata, takwa itu adalah buah dari (QS. 3 : 190-191). Oleh karena itu, mari kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dan, mulai sekarang kita harus memahami seruan khotib setiap Jum’at untuk meningkatkan ketakwaan dengan cara meningkatkan ilmu, iman, dan amal kepada Allah SWT. Sebab takwa itu adalah akumulasi dari iman yang teguh, ilmu yang dalam, dan amal yang kuat.

Lebih eksplisit takwa itu adalah seperti yang disabdakan Nabi tentang manusia yang cerdas. Yakni manusia yang paling banyak mengingat mati, dan paling sungguh-sungguh mempersiapkan untuk menghadapinya. Jadi, takwa itu adalah kecerdasan utama. Sayangnya, belum banyak di antara kita yang benar-benar memahaminya.

Dengan demikian, manusia yang paling maju bukanlah manusia modern yang menganut paham positivisme seperti ungkapan Auguste Comte. Tetapi, manusia paling maju, paling bejo, dan paling bahagia adalah manusia yang memahami Al-Qur’an dengan baik, sehingga mampu menjadi seorang Muslim yang bertakwa.

Perlu dicatat, bahwa tidak akan ada ketakwaan tanpa Al-Qur’an. Maka sudah seharusnya setiap Muslim memahami dan antusias mempelajari Al-Qur’an. Jika demikian, masihkah kita akan meninggalkan Al-Qur’an dan meyakini pendapat manusia yang tidak beriman?

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَاباً فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 10).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan bahwa manusia yang paling mulia itu adalah Muslim yang paling bertakwa (QS. 49: 13). Berarti, manusia yang paling bertakwa di antara kita adalah manusia yang paling berakal (cerdas).*/Imam Nawawi
sumber: hidayatullah.com

Iklan
Categories: Islami, opini, Pendidikan, Terbaru | Tag: , | 3 Komentar

Al-Qur’an, Sains dan Alam Semesta

Al-Qur’an, Sains dan Alam Semesta.

Categories: Islami, Pendidikan, Terbaru | Tag: | Tinggalkan komentar

6 Kejadian Luar Biasa pada manusia

Rasulullah SAW bersabda : ‘Takutilah firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan nur Allah” (hadist Riwayat Tarmizi) Dalam sebuah hadist Qudsi Allah berfirman : “Dan hambaKu yang senantiasa bertaqarrub kepada- Ku dengan nawafil (ibadah sunnat) sehingga Aku mencintainya, maka jadilah Aku seolah-olah sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya dan sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya dan sebagai tangannya yang ia bertindak dengannya dan sebagai kakinya yang ia bertindak dengannya. Dan andaikata ia memohon pasti akan Kuberipadanya. Dan andaikan ia berlindung kepadaKu, pasti Aku lindungi. ” (Riwayat Abu Hurairah) Apabila seseorang sangat dekat dengan Allah SWT disebabkan ketaatan dan keikhlasannya, hatinya senatiasa bersama Allah, takut, rindu dan cintakan Allah, maka Allahpun dekat dengannya dan melimpahkan rahmat, kebajikan dan karuniaNya.

 

Allah mengaruniakan kepada mereka berbagai kelebihan yang tidak diberikan kepada hamba-hambaNya yang lain. Diantara kelebihan yang Allah anugerahkan kepada mereka adalah mendapat petunjuk, mendapat rezeki dari sumber yang tidak diduga, mendapat ilmu secara wahbiah (anugerah) tanpa melalui usaha ikhtiar, mendapat kejadian atau peristiwa luar biasa yang tidak masuk akal sebagaimana Allah mengaruniakan mukjizat kepada para Nabi dan RasulNya.

Adapun peristiwa luar biasa yang tidak masuk akal atau di luar adat kebiasaan itu dapat terbagi menjadi 6 bagian :

1. Mukjizat, yaitu kejadian luar biasa pada diri Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul sesudah diangkat menjadi Rasul. Mukjizat dapat dikategorikan menjadi 2 jenis. Yang pertama mukjizat lahir seperti tongkat membelah lautan, tidak merasa panas dibakar, mengerti bahasa binatang, tongkat menjadi ular, membelah bulan dan sebagainya, dan yang kedua mukjizat maknawi misalnya diberi kesabaran untuk mendidik, diberi A1 Qur’an untuk mendidik manusia sepanjang zaman dan sebagainya. Mukjizat maknawi ini biasanya diturunkan kepada Rasul-Rasul yang mendidik manusia dan dia lebih bernilai dari pada mukjizat lahiriah.

2. Irhash yaitu kejadian luar biasa pada diri Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul seperti dada dibelah oleh Malaikat tanpa merasa sakit dan sebagainya.

3. Karamah yaitu kejadian luar biasa pada diri wali-wali Allah dan para mujaddid. Karamah juga dapat dikategorikan menjadi 2 jenis. Yang pertama karamah lahir seperti pandai terbang, mengusap daun menjadi uang, tidak merasa panas dibakar, menghidupkan ayam yang sudah mati dengan doanya dan sebagainya, dan yang kedua karamah maknawi misalnya diberi kesabaran untuk mendidik dan berjuang, diberi ilmu-ilmu untuk mendidik manusia, diberi ilmu-ilmu strategi perjuangan dan sebagainya. Wali yang berwatak Nabi biasanya Allah beri banyak karamah lahiriah untuk meningkatkan lagi wibawanya di tengah masyarakat, karena mereka biasanya tidak berjuang dan tidak membangunkan jemaah. Sedangkan wali yang berwatak Rasul dan para mujaddid yang mendidik manusia lain, biasanya Allah beri karamah maknawiyah untuk memudahkan mereka mendidik dan membawa masyarakat kepada Allah.

4. Ma’unah yaitu kejadian luar biasa yang berlaku pada diri orang Islam awam. Biasanya terjadi karena berkat orang bertaqwa.

5. Istidradj yaitu kejadian luar biasa yang terjadi pada orang Islam fasik, misalnya tidak mempan dibakar, dibacok, ditembak dan sebagainya.

6. Sihir yaitu kejadian luar biasa yang terjadi pada orang kafir, misalnya tidak mempan dibakar, dibacok, ditembak, membuat orang sakit dari jauh dan sebagainya. -penerbitan giliran timur- __._,_.___ Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.

diambil dari http://upeg.wordpress.com

 

Categories: Do you know?, Islami, Terbaru | Tag: , | Tinggalkan komentar

Biographi singkat Nabi Muhammad SAW

Sejarah Nabi Muhammad SAW

Lagi-lagi sebuah sejarah dilupakan, seakan-akan mereka tidak pernah tahu atau mungkin tidak mau tahu, ini adalah sejarah yang tak boleh dilupakan, karena inilah sebab awal penciptaan dan akhir penciptaan, ia bermula 14 abad yang lalu di sebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi oleh “berhala-berhala” yang sekarang telah berubah wujud tapi memiliki wujud “berhala” yang sama. Sungguh tak terpikirkan betapa bodoh manusia zaman itu, ialah sebuah jazirah yang disebut jazirah Arabia, perbuatan buruk dan haram, perampokan, pembunuhan bayi,minum-minuman keras, yang memusnahkan segala kebajikan dan moral menempatkan masyarakat jazirah Arabia ini dalam situasi kemerosotan yang luar biasa. Mereka terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah (bani/kaum).

 

I. Kelahiran Sang Nabi

 

Pada saat yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabi’ul Awwal (12 Rabi’ul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.

Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api “abadi” di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat (Ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan “meletakkannya” ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata – kata ini kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.

Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik – baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : “Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik – baik hingga kelahirannya.

Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain – 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi “gembala” domba yang lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya. Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, “ Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan.” Orang bertanya kepada Nabi,” Apakah Anda juga pernah menjadi gembala?” Beliau menjawab,” Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.”

Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai “orang jujur” (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain. Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri ‘Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.

Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, “Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan.” Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan “Di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, ‘Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.

Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, “Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.

 

II. Pernikahan

 

Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti ‘Aliyah sebagai berikut:

“Wahai Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu sudah cukup dewasa!” Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan kehormatan ?” Nabi menjawab,”Apa maksud Anda?” Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata,” Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?” Nafsiah berujar “Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (‘Amar bin Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan”.

Kemudian Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan. Tentang keponakannya, ia berkata demikian, “Keponakan saya Muhammad bin ‘Abdullah lebih utama daripada siapapun di kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen”.

Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya, “Tak ada orang Quraisy yang membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda.” Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.

Sang bintang sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak, dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul.

Ketika umur sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Ka’bah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding ka’bah mengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali ka’bah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut, “Dalam pembangunan kembali Ka’bah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini.” Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.

Mari kita kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding ka’bah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa.” (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru, “Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!”

Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah.

Tuhan, Sang Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya menjadi manusia ‘ilahi’. Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak. Sebelum pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan, dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya. Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.

Gunung Hira, puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas peristiwa menyangkut “sahabat karib”-nya (Muhammad), gua ini menjadi saksi bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata,” disinilah dulu anak Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah.“kata saksi bisu.

 

III. Diangkat Menjadi Rasul

 

Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Qur’an, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hira’. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-qur’an sebagai berikut

“Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena.

Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafa’at. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.

Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah “Khodijah”. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,”Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril”. Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah ‘Ali.

Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata,” Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat). “Lalu beliau menambahkan, “Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?”.

Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. ‘Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap,” Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.” Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali ‘Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata,” Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia”.

Pemakluman khilafah (imamah) ‘Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran ‘Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.

Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,” Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya…”.

Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata,“ Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab,” Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka.” Abu Jahal bangkit sambil berkata, “ Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.” Nabi menjawab,” Kalian harus mengakui keesaan Tuhan.” Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata,” Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?”

Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,’Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata], ‘Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan – pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.

Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Qur’an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qur’an Allah berfirman

“Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan,’ Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi’ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syi’ib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan ‘Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya,” Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robi’ul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, ‘Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.

Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Qur’an merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,

“Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi ‘Ali. Kepadanya Nabi berkata,”Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib. ‘Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.

 

IV. Hijrah

 

Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak ‘Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenag,”Apa yang terjadi ?” Mereka menjawab,”Kami mencari Muhammad. Di mana dia?” ’Ali berkata,” Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah.” Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.

Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan ‘Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya ‘Ali dan rombongannya – diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti ‘Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib – karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan ‘Ali berkata “Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah! Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang.” Ketika ‘Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, ‘Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat ‘Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki ‘Ali membengkak, air mata Nabi menetes”.

Penduduk Yastrib – yang kemudian berganti menjadi nama Madinah – menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar ‘al-washi (‘Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, ‘Ali mengingatkannya dalam kata-kata ‘Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya. Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan ‘Ali tidak pernah Absen, ‘Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan ‘Ali pada perang Khandaq (parit) – disebut juga dengan Ahzab – kepada ‘Amar bin ‘Abdiwad itu,” Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina”.

 

V. Benteng Khaibar

 

Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan ‘Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan ‘Umar ini.

Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi,” Dimanakah ‘Ali? “ Dikabarkan kepada beliau bahwa ‘Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,” Panggil dia.” ‘Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi.” Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata ‘Ali seraya mendoakannya. Mata ‘Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi memerintahkan ‘Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari ‘Ali melalui jalur khusus,” Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi.” Seseorang bertanya kepadanya,” Apakah Anda merasakan beratnya?” ‘Ali menjawab,” Saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.” Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka’bah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.

 

VI. Fath Makkah

 

Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.

Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.

Makkah… Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Fir’aun-fir’aun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya

Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya.

Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata “… Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!”

Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang –orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Ba’iat.

Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut – semasa hidup Nabi – yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai “ Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ?” Wahai orang-orang yang ikut bai’at al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon…! orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik… Kami datang, kami datang…!”

Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini – tidak bisa – tidak di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasidan menelitinya kembali.

 

VII. Haji Wada

 

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa’idah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak… seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,”Labbaik, Allahumma labaik… Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu…Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu… Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu…” Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan – dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang – bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Fir’aun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim, Ka’bah dan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada Maksud.

Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,”Tahukah kalian, bulan apa ini ?”

Mereka serentak menjawab,”Bulan Haram!” …..

…”Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya… Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya…..”

Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.

Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.[Petikan dari laman. fatimah.org]

Categories: Islami, Terbaru | Tag: , | Tinggalkan komentar

Biographi singkat Abu Bakar As Shiddiq

Masa kecil dan terbatasnya berita
Sumber-sumber yang sampai kepada kita mengenai masa kecil  Abu Bakr tidak banyak membantu untuk mengenai pribadinya dalam situasi kehidupan saat itu. Cerita sekitar masa anak-anak dan  remajanya tidak juga memuaskan. Apa yang diceritakan tentang kedua  orangtuanya tidak lebih daripada sekedar menyebut nama saja.  Setelah Abu Bakr menjadi tokoh sebagai Muslim yang penting, baru  nama ayahnya disebut-sebut. Ada pengaruh Abu Bakr dalam kehidupan  ayahnya, namun pengaruh ayahnya dalam kehidupan Abu Bakr tidak  ada. Tetapi yang menjadi perhatian kalangan sejarawan waktu itu justru  yang menyangkut kabilahnya serta kedudukannya di  tengah-tengah masyarakat Kuraisy. Tak bedanya mereka itu dalam hal  ini dengan sejarah Arab umumnya. Dengan melihat pertaliannya  kepada  salah satu kabilah,1 (1 Kabilah atau suku merupakan susunan masyarakat Arab yang berasal dari satu  moyang, lebih kecil dari sya’b dan lebih besar dari  ‘imarah, kemudian berturut-turut  batn, ‘imarah dan fakhz.  — Pnj.)  sudah cukup untuk mengetahui watak dan  akhlak mereka. Adakalanya yang demikian ini baik, dan kadang  juga  mereka yang percaya pada prinsip keturunan itu berguna untuk  menentukan kecenderungan mereka, kendati yang lain menganggap  penilaian demikian sudah berlebihan, dan ini yang membuat mereka tidak cermat dalarn meneliti.

Kabilahnya dan kepemimpinannya
Abu Bakr dari kabilah Taim bin Murrah bin Ka’b. Nasabnya  bertemu dengan Nabi pada Adnan. Setiap kabilah yang tinggal di  Mekah punya keistimewaan tersendiri, yakni ada tidaknya  hubungannya  dengan sesuatu jabatan di Ka’bah. Untuk Banu Abd  Manaf tugasnya siqayah dan rifadah, untuk Banu Abdid-Dar, liwa’, hijabah dan nadwah, yang sudah berjalan sejak sebelum Hasyim kakek Nabi lahir. Sedang pimpinan tentara di pegang oleh Banu Makhzum, nenek moyang Khalid bin Walid, dan Banu Taim bin Murrah menyusun masalah diat  (tebusan darah) dan segala macam ganti rugi. Pada zaman jahiliah  masalah penebusan darah ini di tangan Abu Bakr tatkala posisinya cukup kuat, dan dia juga yang memegang pimpinan kabilahnya. Oleh  karena itu bila ia harus menanggung sesuatu tebusan dan ia meminta  bantuan Kuraisy, mereka pun percaya dan mau memberikan tebusan  itu, yang tak akan dipenuhi sekiranya orang lain yang memintanya.

Banyak buku yang ditulis orang kemudian menceritakan adanya pujian ketika menyinggung Banu Taim ini  serta kedudukannya di  tengahtengah  kabilah-kabilah  Arab.  Diceritakan  bahwa ketika  Munzir bin Ma’as-Sama’ menuntut Imru’ul-Qais bin Hujr al-Kindi, ia  mendapat perlindungan Mu’alla at-Taimi (dari Banu Taim), sehingga  dalam hal ini penyair Imru’ul-Qais berkata:

Imru’ul-Qais bin Hujr
Telah didudukkan oleh Banu  Taim, “Masabihuz-Zalami”

Karena bait tersebut, Banu Taim dijuluki “Masabihuz-Zalami”  (pelita-pelita di waktu gelap).
Tetapi sumber-sumber yang beraneka ragam yang melukiskan  sifatsifat Banu Taim itu tidak berbeda dengan yang biasa dilukiskan  untuk kabilah-kabilah lain. Juga tidak ada suatu ciri khas yang bisa dibedakan dan dapat digunakan oleh penulis sejarah atau menunjukkan  suatu sifat tertentu kepada kabilah mana ia dapat digolongkan.  Sumber-sumber itu melukiskan Banu Taim dengan sifat-sifat terpuji:  pemberani, pemurah, kesatria, suka menolong dan melindungi tetangga  dan sebagainya yang biasa dipunyai oleh kabilah-kabilah Arab yang  hidup dalam iklim jazirah Arab.

Nama dan julukannya
Para penulis biografi Abu Bakr itu tidak terbatas hanya pada kabilahnya saja seperti yang sudah saya sebutkan, tetapi mereka  memulai juga dengan menyebut namanya dan nama kedua  orangtuanya.  Lalu melangkah ke masa anak-anak, masa muda dan  masa  remaja, sampai pada apa yang dikerjakannya. Disebutkan bahwa  namanya Abdullah bin Abi Quhafah, dan Abu Quhafah ini pun nama  sebenarnya Usman bin Amir, dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya  bernama Salma bint Sakhr bin Amir. Disebutkan juga, bahwa sebelum Islam ia bernama Abdul Ka’bah. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia dipanggil Abdullah. Ada juga yang mengatakan bahwa tadinya ia bernama Atiq,   karena dari pihak ibunya tak pernah ada anak laki-laki yang hidup. Lalu  ibunya bernazar jika ia melahirkan anak laki-laki akan diberi nama  Abdul Ka’bah  dan akan disedekahkan kepada Ka’bah.  Sesudah Abu   Bakr hidup dan menjadi besar, ia diberi nama Atiq, seolah ia telah  dibebaskan dari maut.

Tetapi sumber-sumber itu lebih jauh menyebutkan bahwa Atiq itu bukan namanya, melainkan suatu julukan karena warna kulitnya yang putih. Sumber yang lain lagi malah menyebutkan, bahwa ketika  Aisyah putrinya ditanyai: mengapa Abu Bakr diberi nama Atiq ia  menjawab: Rasulullah memandang kepadanya lalu katanya: Ini yang  dibebaskan Allah dari neraka; atau karena suatu hari Abu Bakr  datang  bersama sahabat-sahabatnya lalu Rasulullah berkata: Barang  siapa ingin melihat orang yang dibebaskan dari neraka lihatlah ini. Mengenai gelar Abu Bakr yang dibawanya dalam hidup  sehari-hari sumber-sumber itu tidak menyebutkan alasannya, meskipun  penulis-penulis kemudian ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki  begitu karena ia orang paling dini (Bakr berarti dini (A). — Pnj.)dalam Islam dibanding dengan yang  lain.

Masa mudanya
Semasa kecil Abu Bakr hidup seperti umumnya anak-anak di  Mekah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja  sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda itu ia kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza. Dari perkawinan  ini lahir Abdullah dan Asma’. Asma’ inilah yang kemudian dijuluki  Zatun-Nitaqain. Sesudah dengan Qutailah ia kawin lagi dengan  Umm  Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir pula  Abdur-Rahman dan Aisyah. Kemudian di Medinah ia kawin dengan  Habibah bint Kharijah, setelah itu dengan Asma’ bint Umais yang  melahirkan Muhammad. Sementara itu usaha dagangnya berkembang  pesat dan dengan sendirinya ia memperoleh laba yang cukup besar.

Perawakan dan perangainya
Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan sepasang  bahu  yang  kecil dan  muka lancip dengan  mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh  sikapnya yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikiran  yang tajam, banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan  masyarakat  yang tidak diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pernah  minum minuman keras, di zaman jahiliah atau Islam, meskipun  penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli genealogi — ahli silsilah — bicaranya sedap dan pandai bergaul.

Seperti dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab Sirah:
“Abu Bakr adalah laki-laki yang akrab di kalangan  masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga  Kuraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk  kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan  perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah,  pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin  karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak.”

Kecintaannya pada Mekah dan hubungannya dengan Muhammad
Ia tinggal di Mekah, di kampung yang sama dengan Khadijah  bint Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang membawa  perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas ke  Syam1 dan ke Yaman. Karena bertempat tinggal di kampung itu,  itulah  yang membuat hubungannya dengan Muhammad begitu akrab  setelah Muhammad kawin dengan Khadijah dan kemudian tinggal  serumah. Hanya dua tahun beberapa bulan saja Abu Bakr lebih muda  dari Muhammad. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak  berjauhan itu, persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan  perangainya, di samping ketidaksenangannya pada  kebiasaan-kebiasaan   Kuraisy — dalam kepercayaan dan adat — mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh dalam persahabatan  Muhammad dengan Abu Bakr. Beberapa sumber berbeda pendapat,  sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum Muhammad  menjadi Rasul. Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa  persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan  bahwa keakraban itu pula yang membuat Abu Bakr cepat-cepat menerima Islam.

Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya hubungan itu baru kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya karena bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang mendukung pendapat ini barangkali karena kecenderungan Muhammad yang suka menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya menjauhi orang banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia pada Abu Bakr dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara dan diajaknya menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu Abu Bakr pun menerima ajakan itu. Sejak itu terjadilah hubungan yang lebih akrab antara kedua orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakr makin mendalam dan kepercayaannya kepada Muhammad dan risalahnya pun bertambah kuat. Seperti dikatakan oleh Aisyah: “Yang kuketahui  kedua orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di  depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi  atau  sore.”

Menerima dakwah tanpa ragu dan sebabnya
Sejak hari pertama Abu Bakr sudah bersama-sama dengan  Muhammad melakukan dakwah demi agama Allah. Keakraban  masyarakatnya dengan dia, kesenangannya bergaul dan mendengarkan  pembicaraannya, besar pengaruhnya terhadap Muslimin yang  mula-mula  itu dalam masuk Islam itu. Yang mengikuti jejak Abu  Bakr menerima Islam ialah Usman bin Affan, Abdur-Rahman bin  Auf,  Talhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqas dan Zubair bin  Awwam. Sesudah mereka yang kemudian  menyusul  masuk  Islam — atas  ajakan  Abu  Bakr — ialah  Abu Ubaidah bin larrah dan  banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah.
Adakalanya  orang  akan  merasa  heran  betapa  Abu  Bakr. tidak merasa ragu menerima Islam ketika pertama kali disampaikan  Muhammad kepadanya itu. Dan karena menerimanya tanpa ragu itu  kemudiaYi Rasulullah berkata:

“Tak seorang pun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu  Bakr bin Abi Quhafah.  la tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu  ketika kusampaikan kepadanya.”

Sebenarnya tak perlu heran tatkala Muhammad menerangkan kepadanya tentang tauhid dan dia diajaknya lalu menerimanya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi bila Muhammad menceritakan kepadanya mengenai gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia  mempercayainya tanpa ragu. Malah keheranan kita bisa hilang, atau  berkurang, bila kita ketahui bahwa Abu Bakr adalah salah seorang  pemikir Mekah yang memandang penyembahan berhala itu suatu  kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenai benar  Muhammad — kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan  pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya untuk  merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan  didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah  kepadanya itu dilihatnya memang sudah  sesuai dengan pikiran yang  sehat. Pikirannya tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayainya dan  menerima semua itu.

Keberaniannya menerima Islam dan menyiarkannya
Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam  situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu dan sangat  berhati-hati. Keberanian Abu Bakr ini patut sekali kita hargai,  mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan  perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta  menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti  menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan  kelak  akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi  itu.

Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada  pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong  yang tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi  atau berpura-pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat,  mencari keuntungan di balik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka. Sikap munafik begini kita jumpai bukan di kalangan  awamnya, tapi di kalangan tertentu dan kalangan terpelajarnya juga.  Bahkan akan kita jumpai di kalangan mereka yang menamakan diri  pemimpin dan katanya hendak membela kebenaran. Kedudukan Abu  Bakr yang sejak semula sudah dikatakan oleh Rasulullah itu, patut  sekali ia mendapat penghargaan, patut dikagumi.

Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam itulah yang patut dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia, merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Dan barangkali Muhammad pun merasa  cukup puas dengan sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji. Tetapi Abu Bakr dengan menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu  mengajak orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan  dakwahnya untuk meyakinkan kaum Muslimin yang mula-mula untuk  mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya,  inilah yang belum pernah  dilakukan  orang;  kecuali  mereka  yang   sudah  begitu  tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat  membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah berada  di atas kepentingan hidup pribadinya sehari hari. Kita lihat, dalam  membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran  dan kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka. Demikianlah keadaan Abu Bakr dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak ia memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu Bakr pun kemudian kembali ke sisi-Nya.

Abu Bakr orang pertama yang memperkuat agama
Teringat saya tatkala Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab masuk Islam, betapa besar pengaruh mereka itu dalam memperkuat Islam, dan bagaimana pula Allah memperkuat Islam dengan kedua mereka itu. Keduanya terkenal garang dan berpendirian teguh, kuat, ditakuti oleh lawan. Juga saya ingat, betapa Abu Bakr ketika ia masuk Islam. Tidak ragu kalau saya mengatakan, bahwa dialah orang pertama yang ditempatkan Allah untuk memperkuat agama-Nya.  Orang yang begitu damai jiwanya, tenang, sangat lemah lembut dan  perkasa. Matanya mudah berlinang begitu melihat kesedihan menimpa  orang lain. Ternyata orang ini menyimpan iman yang begitu kuat  terhadap agama baru ini, terhadap Rasul utusan Allah. Ternyata ia tak dapat ditaklukkan.

Adakah suatu kekuatan di dunia ini yang dapat melebihi  kekuatan iman! Adakah suatu kemampuan seperti kemampuan iman  dalam hidup ini! Orang yang mengira, bahwa kekuatan despotisma  dan  kekuasaan punya pengaruh besar di dunia ini, ia sudah  terjerumus  ke dalam jurang kesalahan. Jiwa yang begitu damai, begitu  yakin dengan keimanannya akan kebenaran, yang mengajak orang  berdakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, dengan  cara yang lemah lembut, yang bersumber dari akhlak yang mulia dan  perangai yang lembut, bergaul dengan orang-orang lemah,  orang-orang  papa dan kaum duafa, yang dalam penderitaannya sebagai  salah satu sarana dakwahnya — jiwa inilah yang sepantasnya  mencapai sasaran sebagaimana dikehendaki, karena ia mudah diacu dan  keluar sesuai dengan pola yang ada padanya.

Itulah jejak Abu Bakr r.a. pada tahun-tahun pertama dakwah  Islam, dan terus berjalan  sampai pada waktu  ia memangku jabatan  selaku Khalifah, dan berlangsung terus sampai akhir hayatnya.

Melindungi golongan lemah dengan hartanya
Dalam menjalankan dakwah itu tidak hanya berbicara saja  dengan kawan-kawannya dan meyakinkan mereka, dan dalam  menghibur kaum duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan  dianiaya oleh musuhmusuh dakwah, tidak hanya dengan kedamaian  jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni  mereka dengan hartanya. Digunakannya hartanya itu untuk membela  golongan lemah dan orangorang tak punya, yang telah mendapat  petunjuk Allah ke jalan yang benar, tetapi lalu dianiaya oleh  musuh-musuh kebenaran itu. Sudah cukup diketahui, bahwa ketika ia masuk Islam, hartanya  tak kurang dari empat puluh ribu dirham yang disimpannya dari hasil  perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan  mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke Medinah  sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal lima ribu dirham.  Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya,  kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan  Allah dan demi agama dan Rasul-Nya. Kekayaannya itu digunakan  untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk  Islam,  yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain  hanya karena mereka masuk Islam.

Suatu hari Abu Bakr melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya  dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati  dengan begitu, karena ia masuk Islam. Dalam keadaan semacam itu  tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad.  Ketika  itulah ia dibeli oleh Abu Bakr kemudian dibebaskan! Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakr ditebus dan ditugaskan  menggembalakan kambingnya. Tidak sedikit budak-budak itu yang  disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakr dibeli lalu  dibebaskan.

Peranan sebagai semenda Nabi
Tetapi Abu Bakr sendiri pun tidak bebas dari gangguan Kuraisy. Sama halnya dengan Muhammad sendiri yang juga tidak lepas dari  gangguan itu dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di  kalangan kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya.  Setiap Abu Bakr melihat Muhammad diganggu oleh Kuraisy ia  selalu  siap membelanya dan mempertaruhkan nyawanya untuk  melindunginya. Ibn Hisyam menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Kuraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela. Suatu hari mereka berkumpul di Hijr, dan satu sama lain mereka berkata: “Kalian mengatakan apa yang didengarnya dari kalian dan  apa yang kalian dengar tentang dia. Dia memperlihatkan kepadamu  apa yang tak kamu sukai lalu kamu tinggalkan dia.”

Sementara mereka dalam keadaan serupa itu tiba-tiba datang Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Sekaligus ia diserbu  bersama-sama oleh mereka dan mengepungnya seraya berkata: Engkau  yang berkata begini dan begini? Maksudnya yang mencela  berhala-berhala dan kepercayaan mereka. Maka Rasulullah   Sallallahu   ‘alaihi wasallam pun menjawab: Ya, memang aku yang  mengatakan. Salah seorang di antara mereka langsung menarik  bajunya.  Abu Bakr sambil menangis menghalanginya seraya  katanya:   Kamu  mau membunuh orang yang mengatakan hanya  Allah Tuhanku! Mereka kemudian bubar. Itulah yang kita lihat  perbuatan Kuraisy yang luar biasa kepadanya.
Tetapi peristiwa ini belum seberapa dibandingkan dengan  peristiwaperistiwa lain yang benar-benar memperlihatkan keteguhan  iman Abu Bakr kepada Muhammad dan risalahnya itu. Sedikit pun  tak  pernah goyah.  Dan  iman  itu jugalah yang membuat tidak   sedikit  kalangan Orientalis tidak jadi melemparkan tuduhan kepada  Nabi, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka  berlebih-lebihan. Dengan ketenangan dan kedamaian hatinya yang  demikian rupa, keimanan Abu Bakr tidak akan sedemikian tinggi,  kalau ia tidak melihat segala perbuatan Rasulullah yang memang  jauh dari segala yang meragukan, terutama pada waktu Rasulullah   sedang menjadi sasaran penindasan masyarakatnya. Iman yang mengisi  jiwa Abu Bakr ini jugalah yang telah mempertahankan Islam,  sementara yang lain banyak yang meninggalkannya tatkala  Rasulullah  berbicara kepada mereka mengenai peristiwa Isra.

Sikapnya mengenai kisah Isra
Muhammad berbicara kepada penduduk Mekah bahwa Allah telah memperjalankannya malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa  dan bahwa ia bersembahyang di sana. Oleh orang-orang musyrik  kisah  itu diperolok, malah ada sebagian yang sudah Islam pun merasa  ragu. Tidak sedikit orang yang berkata ketika itu: Soalnya sudah  jelas.  Perjalanan kafilah Mekah-Syam yang terus-menerus pun  memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin  hanya satu malam saja Muhammad pergi pulang ke Mekah!

Tidak sedikit mereka yang sudah Islam kemudian berbalik  murtad, dan tidak sedikit pula yang masih merasa sangsi. Mereka pergi  menemui Abu Bakr, karena mereka mengetahui keimanannya dan  persahabatannya dengan Muhammad. Mereka menceritakan apa yang  telah dikatakannya kepada mereka itu mengenai Isra. Terkejut  mendengar apa yang mereka katakan itu Abu Bakr berkata:
“Kalian berdusta.”
“Sungguh,” kata mereka. “Dia di mesjid sedang berbicara dengan orang banyak.”
“Dan kalaupun itu yang dikatakannya,” kata Abu Bakr lagi,  “tentu ia mengatakan yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku,  bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam  atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan.”

Abu Bakr lalu pergi ke mesjid dan mendengarkan Nabi yang  sedang melukiskan keadaan Baitulmukadas. Abu Bakr sudah pernah  mengunjungi kota itu.
Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata: “Rasulullah, saya percaya.”
Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan “as-Siddlq”. (Siddiq, orang yang selalu membenarkan, percaya, yang menerapkan kata dengan perbuatan, yang kemudian menjadi gelar Abu Bakr (al-Mu’jam al-Wasit); orang yang  mencintai kebenaran, yakni Nabi Ibrahim dan Nabi Idris (Qur’an, 19. 41, 56). — Pnj.)
Pernahkah suatu kali orang bertanya dalam hati: Sekiranya Abu Bakr juga sangsi seperti yang lain mengenai apa yang diceritakan Rasulullah tentang Isra itu, maka apa pula kiranya yang akan terjadi dengan agama yang baru tumbuh ini, akibat kesangsian itu?  Dapatkah orang memperkirakan berapa banyak jumlah orang yang akan jadi murtad, dan goyahnya keyakinan dalam hati kaum Muslimin yang  lain? Pernahkah kita ingat, betapa jawaban Abu Bakr ini  memperkuat  keyakinan orang banyak, dan betapa pula ketika itu ia telah  memperkuat kedudukan Islam?

Kalau dalam hati orang sudah bertanya-tanya, sudah memperkirakan dan sudah pula ingat, niscaya ia tak akan ragu lagi memberikan penilaian, bahwa iman yang sungguh-sungguh adalah kekuatan yang paling besar dalam hidup kita ini, lebih besar daripada kekuatan kekuasaan dan despotisma sekaligus. Kata-kata Abu Bakr itu  sebenarnya merupakan salah satu inayah Ilahi demi agama yang benar  ini. Katakata itulah sebenarnya yang merupakan pertolongan dan  dukungan yang besar, melebihi dukungan yang diberikan oleh  kekuatan  Hamzah dan Umar sebelumnya. Ini memang suatu kenyataan apabila di dalam  seja-
rah Islam Abu Bakr mempunyai tempat tersendiri sehingga  Rasulullah berkata: “Kalau ada di antara hamba Allah yang akan  kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakr-lah   khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman,  sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita.”

Kata-kata Abu Bakr mengenai Isra itu menunjukkan pemahamannya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat  ditangkap oleh kebanyakan orang. Di sinilah pula Allah telah  memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang  teman dekatnya saat ia dipilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk  menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Itulah pula bukti  yang kuat, bahwa kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya  tertanam kukuh dan cabangnya (menjulang) ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman, dengan karunia Allah. Ia tak akan  dikalahkan oleh waktu, tak akan dilupakan.

Tugasnya sesudah Isra
Sesudah peristiwa Isra itu, sebagai orang yang cukup berpengalaman akan seluk-beluk perbatasan, Abu Bakr tetap menjalankan  usaha dagangnya. Sebagian besar waktunya ia gunakan menemani  Rasulullah dan untuk menjaga orang-orang lemah yang sudah masuk  Islam, melindungi mereka dari gangguan Kuraisy di samping  mengajak mereka yang mulai tergugah hatinya kepada Islam.
Sementara Kuraisy begitu keras mengganggu Nabi dan Abu Bakr serta kaum Muslimin yang lain, belum terlintas dalam pikiran Abu  Bakr akan hijrah ke Abisinia bersama-sama kaum Muslimin yang lain  yang mau tetap bertahan dengan agama mereka.(Ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa Abu Bakr bermaksud pergi bersama-sama mereka yang hijrah ke Abisinia; tetapi ia bertemu dengan Rabiah bin ad-Dugunnah yang berkata kepadanya: “Wah, jangan ikut hijrah. Engkau penghubung tali kekeluargaan, engkau yang membenarkan peristiwa Isra, membantu orang tak punya dan engkau  yang mengatur pasang surutnya keadaan.” Ia lalu diberi perlindungan keamanan oleh Kuraisy. Abu Bakr tetap tinggal di Mekah dan di serambi rumahnya ia membangun  sebuah  mesjid. Di tempat itu ia sembahyang dan membaca Qur’an. Sekarang Kuraisy  merasa khawatir, perempuan-perempuan dan pemuda-pemuda mereka akan tergoda.  Mereka mengadu kepada Ibn ad-Dugunnah. Abu Bakr mengembalikan jaminan  perlindungan itu dan ia tetap tinggal di Mekah menghadapi segala gangguan.)   Malah ia tetap  tinggal di Mekah bersama Muhammad, berjuang mati-matian demi  dakwah di jalan Allah sambil belajar tentang segala yang  diwahyukan Allah kepada Nabi untuk disiarkan kepada umat manusia.  Dan dengan segala senang hati disertai sifatnya yang lemah lembut, semua harta pribadinya dikorbankannya demi kebaikan mereka yang sudah masuk Islam dan  demi mereka yang diharapkan mendapat petunjuk Allah bagi yang belum  masuk Islam.

Kaum Muslimin di Mekah ketika itu memang sangat  memerlukan perjuangan serupa itu, memerlukan sekali perhatian Abu  Bakr. Dalam pada itu Muhammad masih menerima wahyu dari Allah  dan ia sudah tidak lagi mengharapkan penduduk Mekah akan  menyambut ajakannya itu. Maka ia mengalihkan perhatian kepada kabilah-kabilah. Ia menawarkan diri dan mengajak mereka kepada  agama Allah. Ia telah pergi ke Ta’if, meminta pengertian penduduk  kota itu. Tetapi ia ditolak dengan cara yang tidak wajar. Dalam  hubungannya dengan Tuhan selalu ia memikirkan risalahnya itu dan  untuk berdakwah ke arah itu serta caracaranya untuk menyukseskan  dakwahnya itu.

Dalam pada itu Kuraisy juga tak pernah tinggal diam dan tak  pernah berhenti mengadakan perlawanan. Di samping semua itu, Abu  Bakr juga selalu memikirkan nasib kaum Muslimin yang tinggal di  Mekah, mengatur segala cara untuk ketenteraman dan keamanan hidup  mereka.

Usaha mencegah gangguan Kuraisy
Kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang menulis biografi Abu Bakr tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan itu  sudah memadai juga. Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya  terbayang jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang  terus-menerus dengan Hamzah, dengan Umar, dengan Usman serta  dengan pemukapemuka Muslimin yang lain untuk melindungi  golongan lemah yang sudah masuk Islam dari gangguan Kuraisy.  Bahkan saya membayangkan hubungannya dulu dengan kalangan luar  Islam, dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan mereka,  tetapi berpendapat bahwa Kuraisy tidak berhak memusuhi orang yang  tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah  berhala-berhala itu.

Dalam sejarah hidup Rasulullah kita sudah melihat, di antara mereka banyak juga yang membela kaum Muslimin dari gangguan  Kuraisy itu. Juga kita melihat mereka yang telah bertindak  membatalkan piagam pemboikotan tatkala orang-orang Kuraisy sepakat  hendak memboikot Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta  memblokade mereka selama tiga tahun terus-menerus di celah-celah  gunung di pinggiran kota Mekah, supaya tak dapat berhubungan dan  berbicara dengan orang di luar selain pada bulan-bulan suci. Saya  yakin, bahwa Abu Bakr, dalam menggerakkan  mereka yang bukan   pengikut-pengikut agama Muhammad, namun turut marah melihat tindakan-tindakan Kuraisy terhadapnya itu, punya pengaruh besar, karena sifatnya yang lemah lembut, tutur katanya yang ramah serta pergaulannya yang menarik. Tindakan Abu  Bakr dalam melindungi kaum Muslimin ketika agama ini baru  tumbuh,  itu pula yang menyebabkan Muhammad lebih dekat kepadanya.  Inilah yang telah mempertalikan kedua orang itu dengan  tali persaudaraan dalam iman, sehingga Muhammad memilihnya  sebagai  teman dekatnya (khalilnya).
Setelah dengan izin Allah agama ini mendapat kemenangan  dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah kedua ikrar  Aqabah, Muhammad pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke  kota itu. Sama halnya dengan sebelum itu, ia mengizinkan  sahabat-sahabatnya hijrah ke Abisinia. Orang-orang Kuraisy tidak tahu,  Muhammad ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekah seperti tatkala  kaum Muslimin dulu hijrah ke Abisinia.
Tahukah Abu Bakr maksud Muhammad, yang oleh Kuraisy tidak diketahui? Segala yang disebutkan mengenai ini hanyalah, bahwa  Abu Bakr meminta izin kepada Muhammad akan pergi hijrah, dan  dijawab: “Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti memberikan  seorang teman kepadamu.” Dan tidak lebih dari itu.

Bersiap-siap, kemudian hijrah
Di sini dimulai lagi sebuah lembaran baru, lembaran iman yang begitu kuat kepada Allah dan kepada Rasulullah. Abu Bakr sudah  mengetahui benar, bahwa sejak kaum Muslimin hijrah ke Yasrib,  pihak  Kuraisy memaksa mereka yang dapat dikembalikan ke Mekah  harus dikembalikan, dipaksa meninggalkan agama itu. Kemudian  mereka disiksa, dianiaya. Juga ia mengetahui, bahwa orang-orang  musyrik itu berkumpul di DarunNadwah, berkomplot hendak  membunuh Muhammad. Kalau ia menemani Muhammad dalam  hijrahnya itu lalu Kuraisy bertindak membunuh Muhammad, tidak  bisa tidak Abu Bakr juga pasti dibunuhnya. Sungguhpun begitu,  ketika ia oleh Muhammad diminta menunda, ia pun tidak ragu.  Bahkan ia merasa sangat gembira, dan yakin benar ia bahwa kalau ia  hijrah bersama Rasulullah, Allah akan memberikan pahala dan ini  suatu kebanggaan yang tiada taranya. Kalau sampai ia mati terbunuh  bersama dia, itu adalah mati syahid yang akan mendapat surga.

Sejak itu Abu Bakr sudah menyiapkan dua ekor unta sambil  menunggu perkembangan lebih lanjut bersama kawannya itu. Sementara sore itu ia di rumah tiba-tiba datang Muhammad  seperti biasa tiap sore. Ia memberitahukan bahwa Allah telah  mengizinkan ia hijrah ke Yasrib. Abu Bakr menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah sekiranya dapat menemaninya dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Khawatir Muhammad akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Kuraisy segera mengepungnya.  Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya ia  mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat  tidurnya. Hal itu dilakukan oleh Ali. Lewat tengah malam, dengan  tidak setahu pemudapemuda Kuraisy ia keluar pergi ke rumah Abu  Bakr. Ternyata Abu Bakr memang sedang jaga menunggunya. Kedua  orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang dan bertolak ke  arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka bersembunyi. Pemuda-pemuda Kuraisy itu segera bergegas ke setiap lembah  dan gunung mencari Muhammad untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua  itu kalau-kalau dapat menemukan jejaknya. Saat itu Abu Bakr sudah  mandi keringat ketika terdengar suara mereka memanggil-manggil. Ia  menahan nafas, tidak bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada  Allah. Tetapi Muhammad masih tetap berzikir dan berdoa kepada  Allah. Abu Bakr makin merapatkan diri ke dekat kawannya itu, dan  Muhammad berbisik di telinganya:
“Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita.”

Pemuda-pemuda Kuraisy itu melihat ke sekeliling gua dan yang  dilihatnya hanya laba-laba yang sedang menganyam sarangnya di mulut gua itu. la kembali ke tempat teman-temannya dan mereka bertanya kenapa ia tidak masuk. “Ada laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir.” Dengan perasaan  dongkol pemuda-pemuda itu pergi meninggalkan tempat tersebut.  Setelah mereka menjauh Muhammad berseru: “Alhamdulillah, Allahu  Akbar!” Apa yang disaksikan Abu Bakr itu sungguh makin  menambah  kekuatan imannya.

Apa penyebab ketakutan Abu Bakr ketlka dalam gua?
Adakah rasa takut pada Abu Bakr itu sampai ia bermandi  keringat dan merapatkan diri kepada Rasulullah karena ia sangat  mendambakan kehidupan dunia, takut nasibnya ditimpa bencana? Atau  karena ia tidak memikirkan dirinya lagi tapi yang dipikirkannya hanya  Rasulullah dan jika mungkin ia akan mengorbankan diri demi  Rasulullah? Bersumber dari Hasan bin Abil-Hasan al-Basri, Ibn  Hisyam  menuturkan: “Ketika malam itu Rasulullah Sallallahu  ‘alaihi  wasallam dan Abu Bakr memasuki gua, Abu Bakr  radiallahu   ‘anhu  masuk lebih dulu  sebelum Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sambil meraba-raba gua itu untuk mengetahui kalau-kalau di tempat itu ada binatang buas atau  ular.  Ia mau melindungi Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dengan  dirinya.”

Begitu juga sikapnya ketika dalam keadaan begitu genting demikian terdengar suara pemuda-pemuda Kuraisy, ia berbisik di telinga Nabi: “Kalau saja mereka ada yang menjenguk ke bawah, pasti  mereka melihat kita.” Pikirannya bukan apa yang akan menimpa  dirinya, tetapi yang dipikirkannya Rasulullah dan perkembangan  agama,  yang untuk itu ia berdakwah atas perintah Allah, kalau  sampai  pemuda-pemuda itu berhasil membunuhnya. Bahkan barangkali  pada saat itu tiada lain yang dipikirkannya, seperti seorang ibu yang  khawatir akan keselamatan anaknya. Ia gemetar ketakutan, ia gelisah.  Tak lagi ia dapat berpikir. Bila ada bahaya mengancam, ia akan terjun  melemparkan diri ke dalam bahaya itu, sebab ia ingin melindungi  atau  mati demi anaknya itu. Ataukah Abu Bakr memang lebih gelisah  dari ibu itu, lebih menganggap enteng segala bahaya yang datang,  karena imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah memang sudah  lebih kuat dari cintanya kepada kehidupan dunia, dari naluri seorang  ibu dan dari segala yang dapat dirasakan oleh perasaan kita dan apa  yang terlintas dalam pikiran kita?! Coba kita bayangkan, betapa iman  itu menjelma di depannya, dalam diri Rasulullah, dan dengan itu  segala makna yang kudus menjelma pula dalam bentuk kekudusan dan  kerohaniannya yang agung dan cemerlang!

Saat ini saya membayangkan Abu Bakr sedang duduk dan  Rasulullah di sampingnya. Juga saya membayangkan bahaya yang  sedang mengancam kedua orang  itu.  Imajinasi  saya tak dapat  membantu  mengugkapkan segala yang terkandung dalam lukisan  hidup yang luar biasa ini, tak ada bandingannya dalam bentuk yang  bagaimanapun.

Apa artinya pengorbanan raja-raja dan para pemimpin  dibandingkan dengan pengorbanan Rasulullah
Sejarah menceritakan kepada kita kisah orang-orang yang telah  mengorbankan diri demi seorang pemimpin atau raja. Dan pada  zaman kita ini pun banyak pemimpin yang dikultuskan orang. Mereka  lebih dicintai daripada diri mereka sendiri. Tetapi keadaan Abu Bakr  dalam gua jauh berbeda. Para pakar psikologi perlu sekali membuat  analisis yang cermat tentang dia, dan yang benar-benar dapat  melukiskan keadaannya itu. Apa artinya keyakinan orang kepada  seorang pemimpin dan raja dibandingkan dengan keyakinan Abu Bakr  kepada Rasulullah yang telah menjadi pilihan Allah dan  mewahyukannya dengan agama yang benar!? Dan apa pula artinya  pengorbanan orang untuk pemimpin-pemimpin dan raja-raja itu dibandingkan dengan apa yang  berkecamuk dalam pikiran Abu Bakr saat itu, yang begitu khawatir  terjadi bahaya menimpa keselamatan Rasulullah. Lebih-lebih lagi jika  tak sampai dapat menolak bahaya itu. Inilah keagungan yang sungguh  cemerlang, yang rasanya sudah tak mungkin dapat dilukiskan lagi.  Itulah sebabnya penulis-penulis biografi tak ada yang menyinggung  soal ini.
Setelah putus asa mereka mencari dua orang itu, keduanya  keluar dari tempat persembunyian  dan  meneruskan perjalanan.  Dalam   perjalanan itu pun bahaya yang mereka hadapi tidak kurang pula  dari bahaya yang mengancam mereka selama di dalam gua.

Abu Bakr masih dapat membawa sisa laba perdagangannya sebanyak lima ribu dirham. Setiba di Medinah dan orang menyambut  Rasulullah begitu meriah, Abu Bakr memulai hidupnya di kota itu  seperti halnya dengan  kaum Muhajirin  yang  lain,  meskipun   kedudukannya tetap di samping Rasulullah, kedudukan sebagai  khalil,   sebagai  asSiddlq dan sebagai menteri penasehat.

Abu Bakr di Madinah
Abu Bakr tinggal di Sunh di pinggiran kota Medinah, pada keluarga Kharijah bin Zaid dari Banu al-Haris dari suku Khazraj.  Ketika Nabi mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Ansar Abu  Bakr dipersaudarakan dengan Kharijah. Abu Bakr kemudian disusul  oleh keluarganya dan anaknya yang tinggal di Mekah. la mengurus  keperluan hidup mereka. Keluarganya mengerjakan pertanian — seperti  juga keluarga Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib — di tanah  orang-orang Ansar bersama-sama dengan pemiliknya. Bolehjadi  Kharijah bin Zaid ini salah seorang pemiliknya. Hubungan orang ini  lambat laun makin dekat dengan Abu Bakr. Abu Bakr kawin dengan  putrinya — Habibah — dan dari perkawinan ini kemudian lahir Umm Kulsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakr ketika ia sedang dalam  kandungan  Habibah. Keluarga Abu Bakr tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh, tetapi Umm Ruman dan putrinya Aisyah serta keluarga Abu Bakr yang lain tinggal di Medinah, di sebuah rumah  berdekatan dengan rumah Abu Ayyub al-Ansari, tempat Nabi tinggal.  Ia mundarmandir ke tempat mereka, tetapi lebih banyak di tinggal  di  Sunh, tempat istrinya yang baru.

Terserang demam
Tak lama tinggal di Medinah ia mendapat serangan demam, yang juga banyak menyerang penduduk Mekah yang baru hijrah ke  Medinah, disebabkan oleh perbedaan iklim udara tempat kelahiran  mereka dengan udara tempat tinggal yang sekarang. Udara Mekah adalah udara  Sahara, kering, sedang udara Medinah lembab, karena cukup air dan  pepohonan. Menurut sumber dari Aisyah disebutkan bahwa demam  yang menimpa ayahnya cukup berat, sehingga ia mengigau. Setelah puas dengan tempat tinggal yang baru ini, dan setelah  bekerja keras sehingga keluarganya sudah tidak memerlukan lagi  bantuan Ansar, seluruh perhatiannya sekarang dicurahkan untuk  membantu Rasulullah dalam memperkuat Muslimin, tak peduli  betapa  beratnya pekerjaan itu dan besarnya pengorbanan.

Kemarahan Abu Bakr
Orang  yang begitu damai  dan tenang ini tak pernah  mengenal marah, kecuali ketika melihat musuh-musuh dakwah yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan kaum Munafik itu mulai berolok-olok dan  main tipu muslihat. Rasulullah dan kaum Muslimin dengan pihak  Yahudi sudah membuat perjanjian, masing-masing menjamin  kebebasan  menjalankan dakwah agamanya serta bebas melaksanakan  upacara-upacara keagamaannya masing-masing. Orang-orang Yahudi  itu pada mulanya mengira bahwa mereka mampu mengambil  keuntungan dari kaum Muslimin yang datang dari Mekah dalam  menghadapi Aus dan Khazraj. Tetapi setelah ternyata tak berhasil  mereka memecah belah kaum Muhajirin dengan kaum Ansar, mulailah  mereka menjalankan tipu muslihat dan memperolok agama. Beberapa  orang Yahudi berkumpul mengerumuni salah seorang dari mereka yang  bernama Finhas. Dia adalah pendeta dan pemuka agama mereka. Ketika Abu Bakr datang dan melihat mereka, ia berkata kepada Finhas ini:  “Finhas, takutlah engkau kepada Allah dan terimalah Islam. Engkau  tahu bukan bahwa Muhammad Rasulullah. Dia telah datang kepada kita dengan sebenarnya sebagai utusan Allah. Kalian akan melihat itu  dalam Taurat dan Injil.”

Dengan berolok dan senyum mengejek di bibir Finhas berkata:
“Abu Bakr, bukan kita yang memerlukan Tuhan, tapi Dia yang  memerlukan kita. Bukan kita yang meminta-minta kepada-Nya,  tetapi  Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita tidak  memerlukan-Nya,  tapi Dialah yang memerlukan kita. Kalau Dia  kaya,  tentu tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti yang  didakwakan oleh pemimpinmu itu. Ia melarang kalian menjalankan  riba, tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya, tentu Ia tidak akan  menjalankan ini.”
Yang dimaksud oleh kata-kata Finhas itu firman Allah:

Siapakah  yang  hendak  meminjamkan  kepada  Allah  pinjaman yang baik, yang akan Ia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya.” (Qur’an, 2. 245).

Setelah Abu Bakr melihat orang ini memperolok firman Allah  serta wahyu-Nya kepada Nabi, ia tak dapat menahan diri, dipukulnya  muka Finhas itu keras-keras seraya katanya:
“Demi Allah,  kalau tidak karena adanya perjanjian  antara kami dengan kamu sekalian, kupukul kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan!”

Bukanlah aneh juga Abu Bakr menjadi begitu keras, orang yang begitu tenang, damai dan rendah hati itu. Ia menjadi sedemikian rupa padahal usianya sudah melampaui lima puluh tahun!
Kemarahannya kepada Finhas ini mengingatkan kita kepada  kemarahan yang sama lebih sepuluh tahun yang silam, yaitu ketika  Persia mengalahkan Rumawi, Persia Majusi dan Rumawi Ahli Kitab.  Kaum Muslimin ketika itu merasa sedih karena diejek kaum musyrik  yang menduga bahwa pihak Rumawi kalah karena juga Ahli Kitab  seperti mereka. Ada seorang musyrik menyinggung soal ini di depan  Abu Bakr dengan begitu bersemangat bicaranya, sehingga Abu Bakr  naik pitam. Diajaknya orang itu bertaruh dengan sepuluh ekor unta  bahwa kelak Rumawi yang akan mengalahkan pihak Majusi sebelum  habis tahun itu. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakr akan sangat  marah jika sudah mengenai akidah dan keimanannya yang begitu  tulus  kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikapnya tatkala ia berusia  empat puluh, dan tetap itu juga setelah sekarang usianya lima puluh  tahun sampai kemudian ketika ia sudah menjadi Khalifah dan  memegang pimpinan kaum Muslimin.

Kekuasaan iman pada Abu Bakr
Keimanan yang tulus inilah yang menguasai Abu Bakr,  menguasai segala perasaannya, sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi  pengikut Rasulullah. Orang akan dapat menganalisis segala peristiwa  kejiwaannya dan perbuatannya serta segala tingkah lakunya itu kalau  orang mau melihatnya dari segi moral. Sebaliknya, semua yang di luar  itu, tak ada pengaruhnya dan segala keinginan yang biasa  mempengaruhi hidup manusia, dan banyak juga kaum Muslimin ketika  itu yang terpengaruh, buat dia tak ada artinya. Yang berkuasa terhadap  dirinya — hati nuraninya, pikiran dan jiwanya — semua  hanyalah demi Allah dan Rasul-Nya. Semua itu adalah iman, iman  yang sudah mencapai tingkat tertinggi, tingkat siddiqin, yang sudah  begitu baik tempatnya.

Ketika Rasulullah di Badr
Kemudian kita lihat apa yang terjadi dalam perang Badr. Pihak Mekah sudah menyusun barisan, Nabi pun sudah pula mengatur  kaum Muslimin siap menghadapi perang. Seperti diusulkan oleh Sa’d  bin Mu’az, ketika itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di  barisan belakang, sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak  mereka, Rasulullah dapat kembali ke Medinah. Abu Bakr dan Nabi tinggal dalam dangau itu sambil mengawasi jalannya pertempuran. Dan bila pertempuran dimulai dan Muhammad melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang anak buahnya hanya sedikit, ia berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah. Ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia membisikkan permohonan  dalam hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:

“Allahumma ya Allah! Inilah Kuraisy sekarang datang dengan  segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya  Allah, pertolongan-Mu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah,  jika  pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadah kepada-Mu.”

Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu,  mantelnya terjatuh.  Dalam keadaan serupa itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika  itu juga tampak olehnya pertolongan Allah itu datang. Ia sadar  kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira. Ia keluar  menemui sahabat-sahabatnya sambil berkata kepada mereka:
“Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap seorang  yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus  maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan  menempatkannya di dalam surga.”

Abu Bakr di Badr
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan anak buahnya yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang iauh lebih banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah memohon pertolongan. Kemudian terbuka di  hadapannya tabir hari yang amat menentukan itu dalam sejarah Islam.
Abu Bakr, ia tetap di samping Rasulullah. Dengan penuh iman  ia percaya bahwa Allah pasti akan menolong agama-Nya, dan dengan  hati penuh kepercayaan akan datangnya pertolongan itu, dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam imbauannya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah karena kekhawatiran yang begitu besar  menghadapi  nasib  yang  akan  terjadi  hari  itu,  ketika  itulah Rasulullah berdoa, mengimbau, bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya. Itulah yang diulangnya, diulang sekali  lagi, hingga mantelnya terjatuh, Itulah yang membuatnya mengimbau  sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu Nabi: “Rasulullah,  dengan  doamu Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu.”

Kebenaran dan kasih sayang menyatu dalam dirinya
Banyak orang yang sudah biasa dengan suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang berbeda kepercayaan. Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakr, dengan keimanannya yang begitu agung dan begitu teguh, tak pernah  ia goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar. Sikapnya lebih lunak, penuh  pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan.  Dengan begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang  paling mendasari: mencintai kebenaran, dan penuh kasih sayang.  Demi  kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya, terutama  masalah  hidup duniawi.» Apabila kebenaran  itu  sudah dijunjung  tinggi,   maka lahir pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh  pada prinsip ini seperti pada yang pertama. Terasa lemah ia  menghadapi  semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang deras  mengalir.

Sikapnya terhadap tawanan Badr
Setelah mendapat kemenangan di Badr, kaum Muslimin kembali  ke Medinah dengan membawa tawanan perang Kuraisy. Mereka ini  masih ingin hidup, ingin kembali ke Mekah, meskipun dengan  tebusan  yang mahal. Tetapi mereka masih khawatir Muhammad akan  bersikap keras kepada mereka mengingat gangguan mereka terhadap  sahabat-sahabatnya selama beberapa tahun dahulu yang berada di  tengah-tengah mereka. Mereka berkata satu sama lain: “Sebaiknya kita  mengutus orang kepada Abu Bakr. Ia paling menyukai silaturahmi  dengan Kuraisy, paling punya rasa belas kasihan, dan kita tidak  melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia.” Mereka lalu  mengirim delegasi kepada Abu Bakr.
“Abu Bakr,” kata mereka kemudian, “di antara kita ada yang  masih pernah orangtua, saudara, paman atau mamak kita serta saudara  sepupu kita. Orang yang jauh dari kita pun masih kerabat kita.  Bicarakanlah dengan sahabatmu itu supaya ia bermurah hati kepada  kami atau menerima tebusan kami.”

Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha. Tetapi mereka masih khawatir Umar bin Khattab akan mempersulit urusan mereka ini. Lalu mereka juga bicara dengan Umar seperti pcmbicaraannya dengan Abu Bakr. Tetapi Umar menatap muka mereka dengan mata penuh curiga tanpa memberi jawaban. Kemudian Abu Bakr sendiri yang bertindak sebagai perantara kepada Rasulullah mewakili orang-orang Kuraisy musyrik itu. la mcngharapkan belas kasihannya dan sikap yang lebih lunak terhadap  mereka. la menolak alasan-alasan Umar yang mau main keras  terhadap  mereka. Diingatkannya pertalian kerabat antara mereka  dengan  Nabi. Apa yang dilakukannya itu sebenarnya karena memang  sudah bawaannya sebagai orang yang lembut hati, dan kasih sayang  baginya sama dengan keimanannya pada kebenaran dan keadilan.  Barangkali dengan mata hati nuraninya ia melihat peranan kasih  sayang itu juga yang akhirnya akan menang. Manusia akan menuruti  kodrat yang ada dalam dirinya dan dalam keyakinannya sclama ia  melihat sifat kasih sayang itu adalah peri kemanusiaan yang agung,  jauh daii segala sifat lcmah dan hawa nafsu. Yang menggerakkan  hatinya hanyalah kekuatan dan kemampuan. Atau, kekuasaan  manusia  terhadap dirinya ialah kckuasaan yang dapat meredam  bengisnya kekuatan, dapat melunakkan kejamnya kekuasaan.

Arah hidupnya sesudah Badr
Sebenarnya Perang Badr itu merupakan permulaan hidup baru  buat kaum Muslimin, juga merupakan permulaan arah baru dalam  hidup Abu Bakr. Kaum Muslimin mulai mengatur siasat dalam  menghadapi Kuraisy dan kabilah-kabilah sekitarnya yang melawan  mereka.  Abu Bakr mulai bekerja dengan Nabi dalam mengatur siasat  itu berlipat ganda ketika masih tinggal di Mckah dulu dalam  melindungi kaum Muslimin. Pihak Muslimin semua sudah tahu,  bahwa  Kuraisy tidak akan tinggal diam sebelum mereka dapat  membalas dendam kejadian di Badr itu. Juga mereka mengetahui  bahwa dakwah yang baru tumbuh ini perlu sekali mendapat perlindungan  dan perlu mempertahankan diri dari segala scrangan terhadap mereka itu. Jadi harus ada perhitungan,  hams ada pengaturan siasat. Dengan posisinya di samping Rasulullah seperti yang sudah kita lihat, Abu Bakr tak akan dapat bekerja tanpa adanya perhitungaji dan pengaturan serupa itu, supaya jangan timbul kekacauan di dalam kota Medinah atas hasutan pihak Yahudi dan golongan munafik, dan  supaya jangan ada serangan pihak luar ke Madinah.

Abu Bakr dan Umar; pembantu Rasulullah
Kemenangan Muslimin di Badr itu juga sebenarnya telah mengangkat martabat mereka. Inilah yang telah menimbulkan kedengkian  di pihak lawan. Pada pihak Yahudi timbul rasa sakit hati yang  tadinya biasa-biasa saja. Dalam hati kabilah-kabilah di sekitar  Medinah  yang tadinya merasa aman kini timbul rasa khawatir. Tidak  bisa lain, untuk mencegah apa yang mungkin timbul dari mereka itu,  diperlukan suatu siasat yang mantap, suatu perhitungan yang saksama.  Musyawarah yang terus-menerus antara Nabi dengan sahabat-sahabat  telah diadakan. Abu Bakr dan Umar oleh Nabi diambil sebagai  pembantu dekat (wazir) guna mengatur siasat baru, yang sekaligus  merupakan batu penguji mengingat adanya perbedaan watak pada  kedua orang itu, meskipun mereka sama-sama jujur dan ikhlas dalam  bermusyawarah. Di samping dengan mereka ia juga bermusyawarah  dengan kaum Muslimin yang lain. Musyawarah ini memberi pengaruh  besar dalam arti persatuan dan pembagian tanggung jawab demikian,  sehingga masing-masing mereka merasa turut memberikan saham.

Sebagai penangkal akibat dendam kesumat pihak Yahudi itu  kaum Muslimin sekarang mengepung Banu Qainuqa’ dan  mengeluarkan  mereka dari  Medinah. Begitu juga akibat rasa  kekhawatiran kabilah-kabilah yang berada di sekeliling Medinah,  mereka berkumpul hendak mengadakan serangan ke dalam kota.  Tetapi begitu mendengar Muhammad keluar hendak menyongsong  mereka, mereka sudah lari ketakutan.

Dalam perang Uhud
Berita-berita demikian itu tentu sampai juga ke Mekah, dan ini  tidak menutup pikiran Kuraisy hendak membalas dendam atas  kekalahan mereka di Badr itu. Dalam upaya mereka hendak menuntut  balas itu mereka akan berhadapan dengan pihak Muslimin di Uhud.  Di  sinilah terjadi pertempuran hebat. Tetapi hari itu kaum Muslimin  mengalami bencana tatkala pasukan pemanah melanggar perintah Nabi.  Mereka meninggalkan posnya, pergi memperebutkan harta rampasan  perang. Saat itu Khalid bin Walid mengambil kesempatan, Kuraisy  segera mengadakan serangan dan kaum Muslimin mengalami  kekacauan. Waktu itulah Nabi terkena lemparan batu yang dilakukan  oleh kaum musyrik. Lemparan itu mengenai pipi dan wajahnya,  sehingga Kuraisy berteriakteriak mengatakan Nabi sudah meninggal.  Kalau tidak karena pahlawanpahlawan Islam ketika itu segera  mengelilinginya, dengan mengorbankan diri dan nyawa mereka, tentu  Allah waktu itu sudah akan menentukan nasib lain terhadap mereka.

Sejak itu Abu Bakr lebih sering lagi mendampingi Nabi, baik  dalam peperangan maupun ketika di dalam kota di Medinah.
Orang masih ingat sejarah Muslimin — sampai keadaan jadi  stabil sesudah  pembebasan  Mekah  dan  masuknya Banu  Saqif di   Ta’if ke dalam pangkuan Islam — penuh tantangan berupa  peristiwa-peristiwa perang, atau dalam usaha mencegah perang atau  untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Belum lagi  peristiwa-peristiwa kecil lainnya dalam bentuk ekspedisi-ekspedisi atau  patroli. Waktu itu orang-orang Yahudi — dipimpin oleh Huyai bin  Akhtab — tak henti-hentinya menghasut kaum Muslimin.  Begitu  juga  Kuraisy,  mereka berusaha matimatian mau melemahkan dan  menghancurkan kekuatan Islam. Terjadinya perang Banu Nadir,   Khandaq dan Banu Quraizah dan diselang seling dengan  bentrokan-bentrokan lain, semua itu akibat politik Yahudi dan  kedengkian Kuraisy.

Dalam semua peristiwa dan kegiatan itu Abu Bakr lebih banyak mendampingi Nabi. Dialah yang paling kuat kepercayaannya pada  ajaran Nabi. Setelah Rasulullah merasa aman melihat ketahanan Medinah, dan tiba waktunya untuk mengarahkan langkah ke arah yang baru — semoga Allah  membukakan jalannya untuk menyempurnakan   agama-Nya — maka peranan yang dipegang Abu Bakr itu telah  menambah keyakinan kaum Muslimin bahwa sesudah Rasulullah,  dialah  orang yang punya tempat dalam hati mereka, orang yang sangat mereka hargai.

Sikapnya di Hudaibiyah
Enam tahun setelah hijrah kaum Muslimin ke Medinah  Muhammad mengumumkan kepada orang banyak untuk mengerjakan  ibadah haji ke Mekah. Berita perjalanan jemaah ini sampai juga kepada  Kuraisy. Mereka bersumpah tidak akan membiarkan Muhammad  memasuki Mekah secara paksa. Maka Muhammad dan para sahabat  pun tinggal di Hudaibiyah, di pinggiran kota Mekah. Ia berpegang  teguh pada perdamaian dan ia menolak setiap usaha yang akan  menimbulkan bentrokan dengan Kuraisy. Diumumkannya bahwa  kedatangannya adalah akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk  berperang. Kemudian dilakukan tukar-menukar delegasi dengan  pihak  Kuraisy, yang berakhir dengan persetujuan, bahwa tahun ini ia harus pulang dan boleh kembali lagi tahun depan.
Kaum Muslimin banyak yang marah, termasuk Umar bin  Khattab, karena harus mengalah dan harus pulang. Mereka  berpendapat,  isi perjanjian ini merendahkan martabat agama mereka.  Tetapi Abu Bakr langsung percaya dan yakin akan kebijaksanaan  Rasulullah. Setelah kemudian turun Surah Fath (48) bahwa persetujuan Hudaibiyah itu  adalah suatu kemenangan yang nyata, dan Abu Bakr dalam hal ini,  seperti juga dalam peristiwa-peristiwa lain, ialah  as-Siddiq,  yang  tulus  hati, yang segera percaya.

Kekuatan Muslimin dan mengalirnya para utusan
Integritas dakwah Islam makin hari makin kuat. Kedudukan  Muslimin  di Medinah juga makin  kuat.  Salah  satu  manifestasi   kekuatan mereka, mereka telah mampu mengepung pihak Yahudi di   Khaibar, Fadak dan Taima’, dan mereka menyerah pada kekuasaan  Muslimin, sebagai pendahuluan untuk kemudian mereka dikeluarkan  dari tanah Arab. Di samping itu, manifestasi lain kuatnya Muslimin  waktu itu serta tanda kukuhnya dakwah Islam ialah dengan dikirimnya  surat-surat oleh Muhammad kepada raja-raja dan para amir  (penguasa)  di Persia, Bizantium, Mesir, Hira, Yaman dan  negeri-negeri  Arab di sekitarnya atau yang termasuk amirat-nya..
Adapun gejala yang paling menonjol tentang sempurna dan kuatnya dakwah itu ialah bebasnya Mekah dan pengepungan Ta’if.  Dengan itu cahaya agama yang baru ini sekarang sudah bersinar ke  seluruh Semenanjung, sampai ke perbatasan kedua imperium besar  yang memegang tampuk pimpinan dunia ketika itu: Rumawi dan  Persia. Dengan demikian Rasulullah dan kaum Muslimin sudah merasa  lega atas pertolongan Allah itu, meskipun tetap harus waspada  terhadap  kemungkinan adanya serangan dari pihak-pihak yang ingin  memadamkan cahaya agama yang baru ini.

Bersinarnya cahaya Islam
Setelah orang-orang Arab melihat adanya kekuatan  ini delegasi mereka datang berturut-turut dari segenap Semenanjung, menyatakan keimanannya pada agama baru ini. Bukankah pembawa dakwah ini pada mulanya hanya seorang diri?! Sekarang ia sudah dapat  mengalahkan Yahudi, Nasrani, Majusi dan kaum musyrik. Bukankah  hanya kebenaran yang akan mendapat kemenangan? Adakah tanda  yang lebih jelas bahwa memang dakwahnya itulah yang benar, yang mutlak mendapat kemenangan atas mereka semua itu? Ia tidak  bermaksud menguasai mereka. Yang dimintanya hanyalah beriman  kepada Allah, dan berbuat segala yang baik. Inilah logika yang amat  manusiawi, diakui oleh umat manusia pada setiap zaman dan mereka  beriman di mana pun mereka berada. Ini juga logika yang diakui oleh  akal pikiran manusia. Kekuatan argumentasinya yang tak dapat  dikalahkan itu sudah dibuktikan oleh sejarah.

Abu Bakr memimpin jamaah haji
Allah telah  mengizinkan kaum Muslimin melengkapi kewajiban agamanya,  dan  ibadah  haji  itulah  kelengkapannya.  Oleh  karena  itu dengan adanya delegasi yang berturut-turut itu tidak  memungkinkan Rasulullah meninggalkan Medinah pergi ke Baitullah.  Maka dimintanya Abu Bakr memimpin jamaah pergi menunaikan  ibadah  haji. la berangkat bersama tiga ratus orang. Mereka  melaksanakan ibadah itu, melaksanakan tawaf dan sai. Dalam musim  haji inilah Ali bin Abi Talib mengumumkan — sumber lain   menyebutkan  Abu  Bakr yang mengumumkan — bahwa sesudah  tahun  itu tak boleh lagi kaum musyrik ikut berhaji. Kemudian orang  menunda empat bulan lagi supaya setiap golongan dapat kembali ke tempat tinggal dan negeri masing-masing. Sejak hari itu, sampai sekarang, dan sampai waktu yang  dikehendaki Allah, tak akan ada lagi orang musyrik pergi berhaji  ke  Baitullah, dan tidak akan ada.

Haji Perpisahan dan keberangkatan Usamah
Tahun kesepuluh Hijri Rasulullah melaksanakan ibadah haji perpisahan. Abu Bakr juga ikut serta. Rasulullah  Sallallahu  ‘alaihi wasallam berangkat bersama semua istrinya, yang juga diikuti oleh  seratus ribu orang Arab atau lebih. Sepulang dari melaksanakan  ibadah  haji, Nabi tidak lama lagi tinggal di Medinah. Ketika itu  dikeluarkannya perintah supaya satu pasukan besar disiapkan  berangkat ke Syam, terdiri dari kaum Muhajirin yang mula-mula,  termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan itu sudah bermarkas di Jurf  (tidak jauh dari Medinah) tatkala tersiar berita, bahwa Rasulullah jatuh  sakit. Perjalanan itu tidak diteruskan dan karena sakit Rasulullah  bertambah keras, orang makin cemas.

Abu Bakr memimpin salat
Karena sakit bertambah berat juga maka Nabi meminta Abu Bakr memimpin sembahyang. Disebutkan bahwa Aisyah pernah  mengatakan: “Setelah sakit Rasulullah  Sallallahu  ‘alaihi wasallam  semakin berat Bilal datang mengajak bersembayang: ‘Suruh Abu Bakr  memimpin salat!’ Kataku: Rasulullah, Abu Bakr cepat terharu dan  mudah menangis. Kalau dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Katanya:  ‘Suruh Abu Bakr memimpin sembahyang!’ Lalu kataku kepada  Hafsah: Beritahukanlah kepadanya bahwa Abu  Bakr orang  yang   cepat terharu dan  kalau  dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Usul itu  disampaikan oleh Hafsah. Tetapi kata Nabi lagi: Kamu seperti perempuan-perempuan yang di  sekeliling Yusuf. Suruhlah Abu Bakr memimpin sembahyang. Kemudian  kata Hafsah kepada Aisyah: Usahaku tidak lebih baik dari yang  kaulakukan.”

Sekarang Abu Bakr bertindak memimpin salat sesuai dengan perintah Nabi. Suatu hari, karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umar yang  diminta mengimami salat. Suara Umar cukup lantang, sehingga ketika  mengucapkan takbir di mesjid terdengar oleh Muhammad dari rumah  Aisyah, maka katanya:
“Mana Abu Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.”

Dengan itu orang menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai penggantinya kelak, karena memimpin orang-orang salat merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Sementara masih dalam sakitnya itu suatu hari Muhammad  keluar ke tengah-tengah kaum Muslimin di mesjid, dan antara lain ia  berkata:
“Seorang hamba oleh Allah disuruh memilih tinggal di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih berada di sisi Allah.” Kemudian diam. Abu Bakr segera mengerti, bahwa yang dimaksud oleh Nabi  dirinya. Ia tak dapat menahan air mata dan ia menangis, seraya katanya:
“Kami akan menebus Tuan dengan jiwa kami dan anak-anak kami.” Setelah itu Muhammad minta semua pintu mesjid ditutup kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Kemudian katanya sambil menunjuk kepada Abu Bakr: “Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman) maka Abu Bakr-lah khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya.”

Pada hari ketika ajal Nabi tiba ia keluar waktu subuh ke mesjid sambil bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadl bin al-Abbas.  Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang.  Ketika kaum Muslimin melihat kehadiran Nabi, mereka bergembira  luar biasa. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan  salat. Abu Bakr merasa bahwa mereka berlaku demikian karena ada  Rasulullah. Abu Bakr surut dari tempatnya. Tetapi Nabi memberi  isyarat agar diteruskan. Lalu Rasulullah duduk di sebelah Abu Bakr,  salat sambil duduk.

Lepas salat Nabi kembali ke rumah Aisyah. Tetapi tak lama kemudian demamnya kambuh lagi. Ia minta dibawakan sebuah  bejana berisi air dingin. Diletakkannya tangannya ke dalam bejana itu  dan dengan begini ia mengusap air ke wajahnya. Tak lama kemudian ia telah  kembali kepada Zat Maha Tinggi, kembali ke sisi Allah.

Rasulullah telah meninggalkan dunia kita setelah Allah menyempurnakan agama ini bagi umat manusia, dan melengkapi kenikmatan hidup bagi mereka. Apa pulakah yang dilakukan orang-orang Arab  itu kemudian? Ia tidak meninggalkan seorang pengganti, juga tidak  membuat suatu sistem hukum negara yang terinci. Hendaklah  mereka  berusaha (berijtihad) sendiri. Setiap orang yang berijtihad  akan mendapat bagian.

Categories: Islami, Terbaru | Tag: , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.