opini

Harus Pandai dan Berakhlak

“Belajarlah yang rajin biar nanti jadi anak yang pandai sehingga bisa bermanfaat bagi seluruh umat!”
Kiranya kata-kata seperti ini yang sering saya dengar. Apa lagi aku sudah kelas 12 SMA!
Tidak ada yang salah dari perkataan di atas. Namun ada satu hal yang perlu dianalisa. Selama ini, kita mungkin sudah terdoktrin dengan rumus:
|rajin belajar => pandai => bermanfaat|
Mari kita cermati bersama rumus di atas. Anak yang rajin => anak yang pandai, ini 99,99999% benar. Anak yang pandai => orang yang bermanfaat. Kalau ini tingkat kebenarannya cuma 50%! Mengapa?
Ilmu dapat diumpamakan sebagai produk teknologi (dalam hal ini saya umpamakan alat pemotong). Alat pemotong ini selain bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat juga bisa digunakan untuk hal-hal yang merusak. Contoh, silet bisa digunakan untuk mencukur kumis dan membunuh.
Ilmu yang makin tinggi dapat diumpamakan sebagai alat pemotong berteknologi makin modern. Saya akan ilustrasikan 2 tokoh, si A dan si B. Si A memiliki sebilah pisau (teknologi masih rendah = ilmunya masih rendah). Jika ia baik, ia hanya bisa bermanfaat bagi beberapa orang. Misal ia gunakan pisau itu untuk mengiris bawang merah, menguliti kambing, memotong kayu bakar, dan sebagainya. Sebaliknya, jika ia ingin melakukan kejahatan, hanya beberapa orang yang dirugikan. Misal ia menggunakan pisaunya untuk mencuri dan membunuh.
Si B punya alat pemotong laser (teknologi tinggi => ilmunya tinggi), semua benda yang dilalui sinar laser ini akan terpotong. Jika si B baik, ia bisa memberikan manfaat bagi seluruh umat. Misal ia gunakan alat itu untuk mempercepat berbagai macam produksi. Namun, jika ia jahat, ia bisa menumbangkan tugu monas, menara petronas, bahkan membinasakan umat.
Jadi, orang pandai itu selain bisa memberikan manfaat yang besar, mungkin saja malah menghancurkan kehidupan suatu negara.
Lihat saja nasib negara kita yang dikhianati oleh anak-anak emasnya (baca: koruptor). Andai saja mereka menjadi orang yang baik, bukan hal yang mustahil negara kita menjadi negara superpower menggantikan AS.
Penulis punya optimisme yang tinggi pada masa depan bangsa kita. Sewaktu saya mengikuti OSN 2012, tumbuhlah harapan menatap masa depan. Di sana, berkumpul generasi muda berotak encer terbaik dibidangnya, dari seluruh Indonesia. Saya membayangkan betapa “……”* bangsa dan negara Indonesia jika kelak mereka tumbuh dengan akhlak yang mulia.
Semoga!

Categories: opini, Pendidikan, Terbaru | Tag: | Tinggalkan komentar

Dialog Seorang Muslim Taat dengan Seorang Nasrani di akhir Tahun

Ini adalah tulisan asli saya yang pertama di blog ini. Artikel yang telah terbit sebelumnya adalah hasil editan, merangkum, ada pula yang ngopas ( maklum lah masih pemula).
Baiklah langsung saja kita kembali ke laptop ( bisa juga komputer atau handphone Anda).
Ada dua pemuda yang bersahabat walaupun mereka berbeda keyakinan.
Nasrani : “Hari ini hari natal, tapi mengapa kau tidak mengucapkan selamat Natal kepada saya?”
Muslim : “Islam melarang hal itu.”
Nasrani : “Mengapa? Katamu Islam itu menjunjung tinggi kerukunan beragama?”
Muslim : “Ya, tapi hanya terbatas untuk hal-hal yang sifatnya sosial. Kalau sudah menyangkut keyakinan (aqidah), misal ikut menunaikan ibadah agama lain, Agamaku sangat tegas melarang.”
Nasrani : emmm,… Kayaknya semua agama juga gitu. Menurutku kalau cuma ngucapin selamat Natal, gak masalah. Kan cuma kata-kata biasa. Hitung-hitung mempererat kerukunan.”
Muslim : “Maukah kamu mengucapkan dua kalimat syahadat?”
Nasrani : “Pertanyaanmu itu benar-benar konyol! jelas aku tidak mau! Agamaku tegas melarangnya!”
Muslim : “Lhoh,… Kan cuma kata-kata ‘biasa’.”
Nasrani : “Sama saja kamu menyuruhku mempercayai agamamu!
Muslim : “Tuh kan baru nyadar,….”
Nasrani : “Kamu benar, Sob. Sorry ya,…”
Muslim : “Sama-sama, Sob,….”

Pesan untuk kaum muslim : Toleransi itu ada batasnya, jangan sampai kalian kehilangan aqidah kalian.
Pesan untuk kaum Nasrani : Jika ada umat Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal atau selamat Tahun Baru, bukan berarti mereka membenci kalian. Mereka hanya ingin menjaga agamanya. Jika kalian meminta atau bahkan memaksa teman-teman kalian yang muslim untuk mengucapkan selamat Natal, berarti kalian telah melanggar ketetuntuan toleransi beragama karena MENGGANGGU aqidah mereka. Coba bayangkan jika hal sebaliknya terjadi. Relakah kalian? Maukah kalian?
Keep in peace!

Categories: Do you know?, opini, Pendidikan, Terbaru | Tag: , | 13 Komentar

Takwa, Ciri Muslim Cerdas dan Berakal

Di manapun dan kapanpun berada, kening kita bersujud di hadpan Allah

Senin, 10 Desember 2012

MODERNITAS selalu mengidentikkan akal dengan anti Tuhan. Tidak disebut orang berakal jika masih menyembah Tuhan, itulah kesimpulan Auguste Comte dengan konstruk logika positivisme-nya. Bahkan, menurut Comte, orang atau masyarakat yang masih meyakini Tuhan, termasuk manusia primitif. Manusia yang paling maju adalah manusia modern yang meninggalkan Tuhan.

Jika ditinjau dari aspek historis, pernyataan Comte itu relevan untuk diri dan orang sezamannya. Namun logika Comte itu sama sekali tidak berguna dan tak laku bagi umat Islam, kapan dan di manapun di seluruh dunia ini. Sayangnya, logika rusak ini justru menjadi materi pelajaran sosiologi dan filsafat ilmu di kalangan siswa dan mahasiswa, maka tidak sedikit Muslim modern yang juga salah pandang terhadap arti kemajuan dan modernitas.

***

Dunia hari ini memandang kemajuan itu dari aspek materi, berupa teknologi dan materi. Sering kita mendengar bahwa orang yang belum tahu gadget terbaru, game terbaru, pakaian terbaru, atau mobil baru, disebut sebagai ketinggalan zaman. Padahal, perkembangan teknologi itu tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada produk terbaru setiap tahun, bahkan mungkin pertriwulan. Jangankan hand phone, produk mobil saja setahun bisa muncul lebih dari tiga jenis mobil varian terbaru.

Konsekuensi dari banyaknya produk baru, meniscayakan iklan besar-besaran. Akhirnya, tidak bisa kita pungkiri, banyak umat Islam yang mau tidak mau harus mengkonsumsi iklan produk-produk baru, hampir setiap kali mereka melihat komputer, tablet, koran, bahkan SMS. Akibatnya jelas, cepat atau lambat, pola berpikir konsumtif pun merajalela. Sering orang bekerja mati-matian untuk membeli hp keluaran terbaru. Bahkan, ada seorang gadis yang rela menjual tubuhnya untuk bisa membeli hp tercanggih di negeri ini.

Bagi Muslim yang berkecukupan bahkan berlebih, sebagian sudah melupakan saudaranya yang membutuhkan. Mereka sibuk mengoleksi benda-benda, mulai dari baju, sepatu, hp, bahkan sampai peralatan mewah yang super mahal. Semua itu menjadi kebanggaan, pemelihara gengsi, dan pengangkat derajat dalam pergaulan. Akhirnya, orang berlomba-lomba mencari kekayaan dan menumpuk-numpuk harta.

Mereka masih tetap Muslim, tetapi pola pikir mereka sudah keliru. Seorang Muslim, mestinya mencari akhirat tanpa lupa dunia (QS. 28: 77). Sekarang, situasinya berbeda, orang mengejar dunia dengan tidak lupa akhirat, bahkan ada yang melupakan akhirat demi dunia. Jelas ini pola pikir yang salah.

Mungkin karena pemikiran Comte yang disuapin pada generasi bangsa melalui pendidikan sosiologi atau mungkin karena kajian filsafat ilmu di perkuliahan. Atau bisa jadi, karena sebagian besar umat Islam sendiri belum sungguh-sungguh mengkaji, menggali, dan memaknai Al-Qur’an secara serius, sehingga mayoritas umat Islam hari ini banyak meninggalkan ajaran agama, karena begitu cintanya terhadap kehidupan dunia.

Allah Subhanahu Wata’ala jauh-jauh hari telah menegaskan kepada kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, menipu, dan senda gurau belaka. Artinya, umat Islam dalam menjalani kehidupan dunia ini harus menghiasi dirinya dengan sifat mulia, yakni sifat takwa.

Takwa, Cerdas

Tetapi manusia sering lalai dan cenderung tidak mau merenung. Bahkan manusia sering mementingkan hal-hal remeh dan mengabaikan hal utama, sehingga hati tidak bekerja dengan sempurna, akal terbuai, dan akhirnya sangat cinta pada kehidupan dunia. Bahkan rela menanggalkan ajaran-ajaran agama, meskipun hati nurani sangat mengerti.

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللّهِ يَجْحَدُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.” (QS. Al Maidah [6]: 32).

Pada ayat sebelumnya (QS. 6 : 31) Allah tegaskan secara gamblang perihal orang kafir yang sangat menyesali diri mereka karena telah mendustakan Allah karena sangat cinta dunia. Qatadah sebagaimana termaktub dalam tafsir Ibn Katsir menyatakan bahwa sangatlah rugi dan menyesal manusia yang mendustakan Allah karena begitu cintanya kepada kehidupan dunia, mereka itulah orang kafir.

Lebih lanjut, Ibn Abi Hatim mengatakan dari Abu Marzuq, “Ketika keluar dari kuburnya, orang kafir atau orang jahat itu disambut oleh sosok dalam wujud yang paling buruk lagi bau busuk. Si kafir bertanya; ‘Siapa kamu ini?’ ‘Apakah kamu tidak mengenaliku?’ tanya sosok itu. ‘Tidak, kecuali bahwa Allah telah menjadikan wajahmu buruk dan menjadikan baumu busuk,’ papar si kafir itu.

Sosok itu pun menjawab, ‘Aku adalah amal keburukanmu, seperti inilah kamu dahulu ketika di dunia beramal yang buruk lagi busuk. Selama di dunia engkau telah menunggangiku. Maka marilah sekarang aku menunggangimu!’

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, Muslim yang mementingkan hal-hal tidak penting, dan memprioritaskan hal-hal yang tidak dibutuhkan untuk kehidupan akhiratnya, bisa termasuk manusia yang merugi dan menyesal atas segala perbuatannya selama di dunia. Dan, hanya Muslim yang bertakwa yang akan selamat dari tipu daya kehidupan dunia.

Mari kita simak kembali firman-Nya;

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. al-Qashah [28]: 60).

Secara umum dapat dipahami bahwa hanya Muslim yang bertakwa yang dapat menggunakan akal sehatnya dengan benar, sehingga tidak silau oleh kehidupan dunia. Ayat tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bagi Muslim yang belum bertakwa untuk benar-benar memaksimalkan fungsi akalnya, sehingga terbebas dari penyesalan tiada arti di akhirat kelak.

Jadi, takwa itu tidak identik dengan ibadah semata, takwa itu adalah buah dari (QS. 3 : 190-191). Oleh karena itu, mari kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dan, mulai sekarang kita harus memahami seruan khotib setiap Jum’at untuk meningkatkan ketakwaan dengan cara meningkatkan ilmu, iman, dan amal kepada Allah SWT. Sebab takwa itu adalah akumulasi dari iman yang teguh, ilmu yang dalam, dan amal yang kuat.

Lebih eksplisit takwa itu adalah seperti yang disabdakan Nabi tentang manusia yang cerdas. Yakni manusia yang paling banyak mengingat mati, dan paling sungguh-sungguh mempersiapkan untuk menghadapinya. Jadi, takwa itu adalah kecerdasan utama. Sayangnya, belum banyak di antara kita yang benar-benar memahaminya.

Dengan demikian, manusia yang paling maju bukanlah manusia modern yang menganut paham positivisme seperti ungkapan Auguste Comte. Tetapi, manusia paling maju, paling bejo, dan paling bahagia adalah manusia yang memahami Al-Qur’an dengan baik, sehingga mampu menjadi seorang Muslim yang bertakwa.

Perlu dicatat, bahwa tidak akan ada ketakwaan tanpa Al-Qur’an. Maka sudah seharusnya setiap Muslim memahami dan antusias mempelajari Al-Qur’an. Jika demikian, masihkah kita akan meninggalkan Al-Qur’an dan meyakini pendapat manusia yang tidak beriman?

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَاباً فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 10).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan bahwa manusia yang paling mulia itu adalah Muslim yang paling bertakwa (QS. 49: 13). Berarti, manusia yang paling bertakwa di antara kita adalah manusia yang paling berakal (cerdas).*/Imam Nawawi
sumber: hidayatullah.com

Categories: Islami, opini, Pendidikan, Terbaru | Tag: , | 3 Komentar

sambutan sederhana

Alhamdulillah, blog ini telah terbit. Semoga membawa manfaat bagi kita semua,…

Categories: opini, Terbaru | Tag: | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.